Mengajarkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” kepada anak usia dini tentu tidak cukup hanya dengan menunjukkan gambar atau menceritakannya di dalam kelas. Konsep toleransi, keberagaman, dan kerukunan antarumat beragama adalah nilai luhur yang harus dirasakan dan dilihat langsung oleh anak-anak agar dapat meresap menjadi karakter dasar mereka.
Memahami pentingnya pendidikan karakter berbasis pengalaman nyata (experiential learning), pada tanggal 15 Agustus 2025, Sekolah Guang Ming menyelenggarakan kegiatan field trip yang sangat istimewa bagi siswa-siswi Playgroup (PG) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Destinasi edukasi kali ini adalah dua ikon kebanggaan Indonesia yang berdiri berdampingan sebagai simbol harmoni Nusantara: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Mengagumi Kemegahan dan Kedamaian di Masjid Istiqlal
Perjalanan edukatif ini dimulai dengan mengunjungi Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara. Sejak melangkahkan kaki ke area tempat ibadah, anak-anak diajarkan tentang adab dan tata krama, seperti melepas sepatu dan menjaga ketenangan.
Begitu memasuki ruang salat utama, raut takjub langsung terpancar dari wajah polos para siswa. Di atas hamparan karpet merah yang luas dan empuk, anak-anak duduk melingkar dengan rapi sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Mengenakan seragam biru muda yang cerah, mereka tampak memandangi pilar-pilar raksasa berlapis baja tahan karat yang menjulang tinggi menopang kubah masjid.
Tidak hanya melihat area salat, rombongan juga diajak melihat salah satu daya tarik bersejarah di Istiqlal, yaitu sebuah bedug raksasa yang terbuat dari kayu utuh berusia ratusan tahun. Didampingi oleh para guru yang mengenakan seragam hijau toska, anak-anak berbaris ceria di depan bedug tersebut untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka. Pengalaman ini mengenalkan mereka pada simbol-simbol keagamaan saudara umat Muslim dengan cara yang sangat menyenangkan dan interaktif.
Melangkah Teratur Menuju Gereja Katedral
Satu hal yang membuat kawasan ini sangat spesial adalah letak kedua rumah ibadah yang saling berhadapan. Setelah selesai mengeksplorasi Istiqlal, anak-anak diajak berjalan kaki menuju Gereja Katedral. Di bawah terik matahari pagi yang menyehatkan, para siswa menunjukkan kemandirian luar biasa dengan berbaris sangat rapi, menyandang tas ransel mungil mereka, dan berjalan beriringan menyusuri trotoar pejalan kaki.
Setibanya di Gereja Katedral, suasana arsitektur langsung berubah drastis. Jika sebelumnya mereka melihat gaya bangunan modern bernuansa Timur Tengah, kini mereka disambut oleh bangunan megah bergaya neo-gotik peninggalan era kolonial.
Anak-anak diajak berkumpul dan berfoto bersama di undakan tangga batu tepat di depan pintu masuk utama gereja yang dihiasi lengkungan arsitektur klasik yang menjulang. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke area dalam, di mana mereka duduk dengan tertib di atas lantai ruangan museum katedral yang sejuk dan terang, mendengarkan cerita tentang sejarah bangunan serta tradisi ibadah umat Katolik di Indonesia.
Mengapa Kunjungan Rumah Ibadah Penting Bagi Anak TK?
Membawa anak balita dan usia TK berkeliling ke rumah ibadah dari berbagai agama mungkin terdengar seperti tugas yang menantang. Namun, nilai edukasi yang didapatkan jauh melebihi rasa lelah di perjalanan. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari field trip lintas agama ini:
-
Menanamkan Benih Toleransi: Dengan mengunjungi tempat ibadah agama lain, anak-anak menyadari bahwa setiap agama memiliki tempat dan cara ibadah yang berbeda, namun semuanya mengajarkan kebaikan. Ini adalah fondasi utama untuk mencegah bibit intoleransi di masa depan.
-
Melatih Adab di Ruang Publik: Anak-anak mempraktikkan langsung bagaimana harus bersikap sopan, berbicara dengan suara pelan, dan menghormati aturan yang berlaku di tempat suci.
-
Pengenalan Sejarah dan Arsitektur: Kegiatan ini merangsang rasa ingin tahu visual anak (visual curiosity) saat melihat perbedaan gaya bangunan, ornamen, dan kaligrafi/lukisan dari masing-masing rumah ibadah.
-
Melatih Kemandirian dan Kedisiplinan: Berjalan dalam barisan yang panjang, mengikuti instruksi guru saat berada di luar sekolah, dan menjaga barang bawaan sendiri melatih tingkat kedisiplinan motorik dan kognitif anak.
Kegiatan field trip pada 15 Agustus 2025 ini telah sukses membuka jendela dunia bagi anak-anak PG dan TK Guang Ming. Mereka pulang tidak hanya membawa cerita seru tentang luasnya masjid atau tingginya menara gereja, tetapi juga membawa pulang pemahaman baru: bahwa meskipun kita berbeda-beda, kita semua bisa hidup rukun berdampingan.
Terima kasih kepada para guru dan orang tua yang selalu mendukung program-program experiential learning Sekolah Guang Ming. Mari terus bergandengan tangan mencetak generasi cerdas yang berhati mulia!









