Bagi kebanyakan sekolah, study tour adalah momen di mana siswa bisa bersantai, duduk manis di dalam bus, dan mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata profesional. Namun, SMA Guang Ming memiliki cara yang berbeda dan jauh lebih menantang. Melalui program tahunan Experiential Learning 2026, kami mendefinisikan ulang makna perjalanan edukasi.
Konsep utama dari program ini sangat unik: setiap destinasi wisata yang dikunjungi tidak dipandu oleh tour guide luar, melainkan diinisiasi, diriset, dan dipandu langsung oleh siswa-siswi SMA Guang Ming sendiri. Dibagi ke dalam beberapa kelompok, setiap tim bertanggung jawab penuh atas satu destinasi—mulai dari menyusun materi sejarah, memandu teman-temannya di lapangan, hingga mengatur ketertiban rombongan.
Berlangsung pada 7 hingga 13 Februari 2026, perjalanan lintas provinsi (Jawa Timur hingga Jawa Tengah) ini menjadi saksi bagaimana siswa-siswi kita bertransformasi menjadi pemimpin muda yang tangguh. Mari kita ikuti rekam jejak keseruan mereka!
Menyusuri Jejak Sejarah dan Warna-Warni Malang
Perjalanan dimulai di kota apel, Malang. Destinasi pertama yang menanti rombongan adalah Candi Badut, candi tertua di Jawa Timur.
Di sini, kelompok siswa yang bertugas mengambil alih komando. Dengan lugas, mereka menjelaskan sejarah peninggalan Kerajaan Kanjuruhan ini kepada teman-temannya. Menjelaskan relief kuno dengan bahasa anak muda masa kini tentu bukan hal mudah, namun mereka berhasil membuatnya menjadi sesi sejarah yang sangat interaktif.
Setelah wisata candi, rombongan bergeser ke Kampung Warna-Warni Jodipan. Kelompok pemandu di destinasi ini memaparkan kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah kawasan kumuh di bantaran sungai dapat disulap menjadi ikon wisata berkat kreativitas dan kepedulian mahasiswa lokal. Ini memberikan perspektif baru bagi siswa tentang dampak sosial dari sebuah inovasi.
Menaklukkan Dinginnya Pasir Berbisik Bromo
Hari kedua adalah ujian fisik dan mental yang sesungguhnya. Rombongan bergerak menuju kawasan Gunung Bromo. Udara dingin yang menusuk tulang dan medan lautan pasir yang menantang mengharuskan kelompok guide yang bertugas ekstra waspada.
Mereka harus berkoordinasi dengan para pengemudi jeep, memastikan seluruh anggota rombongan tetap berkumpul, serta memandu teman-temannya menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat Tengger. Berfoto bersama di atas jeep berlatarkan perbukitan hijau dan kawah Bromo menjadi momen kemenangan mereka pagi itu.
City Tour Penuh Adrenalin di Surabaya
Setelah beristirahat sejenak, pada tanggal 12 Februari, rombongan tiba di Kota Pahlawan, Surabaya. Ini adalah hari dengan jadwal terpadat, dan kelompok-kelompok guide harus menunjukkan keahlian manajemen waktu tingkat tinggi!
Destinasi pertama adalah ikon kota, Patung Suro & Boyo.
Di bawah terik matahari Surabaya, kelompok yang bertugas menceritakan mitos perkelahian hiu dan buaya yang menjadi cikal bakal nama kota ini. Selanjutnya, rombongan bergegas masuk ke lambung sejarah maritim di Monumen Kapal Selam (Monkasel) Pasopati 410.
Kelompok guide di sini dengan sigap mengatur alur masuk teman-temannya ke dalam ruangan kapal selam yang sempit, sambil menjelaskan fungsi berbagai instrumen militer peninggalan Uni Soviet tersebut.
Perjalanan berlanjut ke Tugu Pahlawan.
Di hadapan patung proklamator Soekarno-Hatta, siswa yang bertugas memandu berhasil membangkitkan rasa nasionalisme rombongan melalui narasi heroik pertempuran 10 November. Sebagai penutup city tour siang itu, rombongan mengunjungi Museum De Javasche Bank.
Berbeda dengan lokasi sebelumnya, di museum ini kelompok guide harus membawakan materi seputar sejarah sistem keuangan dan perbankan kolonial. Dengan gaya ala kurator museum profesional, mereka sukses memandu teman-temannya menelusuri ruangan-ruangan penyimpan emas dan uang kuno.
Menembus Lorong Waktu di Kota Tua Semarang
Selesai di Surabaya, bus langsung meluncur menuju Jawa Tengah. Tiba di Semarang pada malam hari, semangat rombongan rupanya belum surut. Mereka diajak berkeliling Kota Tua Semarang. Di bawah temaram lampu jalan yang estetis dan deretan gedung bergaya Eropa (Outstadt), kelompok guide malam itu memberikan tur jalan kaki (walking tour) yang santai namun sarat informasi mengenai sejarah perdagangan kolonial di Semarang.
Keajaiban Arsitektur Lawang Sewu dan Sam Poo Kong
Hari terakhir Experiential Learning ditutup dengan manis di dua ikon budaya Semarang. Destinasi pertama adalah Lawang Sewu. Mepisahkan diri dari mitos-mitos mistis yang sering beredar, kelompok siswa yang bertugas fokus membedah kejeniusan arsitektur gedung ini dan sejarahnya sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda (NIS).
Setelah itu, perjalanan diakhiri di Kelenteng Sam Poo Kong. Di sini, giliran kelompok terakhir yang beraksi, menceritakan epik pelayaran Laksamana Cheng Ho dan bagaimana tempat ini menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang harmonis.
Mengapa Siswa Harus Menjadi Pemandu?
Pendekatan student-led tour yang diterapkan oleh SMA Guang Ming ini bukan tanpa alasan. Dari rentetan perjalanan 7 hingga 13 Februari tersebut, ada banyak pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dengan duduk di bangku kelas:
-
Mengasah Kemampuan Public Speaking: Berbicara di depan puluhan teman dan guru di ruang terbuka yang bising melatih kepercayaan diri dan vokal siswa.
-
Manajemen Krisis dan Waktu: Terjebak macet di Surabaya atau menghadapi cuaca dingin di Bromo memaksa siswa untuk berpikir cepat dan menyesuaikan itinerary secara mandiri.
-
Membangun Rasa Empati: Menjadi guide berarti harus memastikan tidak ada teman yang tertinggal, sakit, atau bosan. Ini memupuk jiwa kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
-
Literasi Sejarah yang Mendalam: Karena harus memandu, siswa secara otomatis akan membaca, meriset, dan memahami sejarah suatu tempat dengan jauh lebih baik daripada sekadar membacanya di buku teks.
Program Experiential Learning SMA Guang Ming 2026 telah membuktikan bahwa remaja usia SMA mampu memikul tanggung jawab besar. Mereka pulang membawa kenangan indah, ikatan persahabatan yang semakin erat, dan tentu saja, bekal soft skill yang sangat krusial untuk masa depan mereka. Sampai jumpa di petualangan edukasi Guang Ming tahun depan!













